cursor efek

Jumat, 18 Mei 2012

laporan lengkap praktikum laboratorium pengukuran


BAB I
MULTIMETER SEBAGAI OHM METER
TUJUAN PERCOBAAN
            Setelah melakukan percobaan  ini mahasiswa diharapkan dapat:
1.      Meggunakan peukur multimeter untuk mengukur resistansi/hambtan yaitu sebagai ohm meter.
2.      Membandingkan nilai resistor yang terbaca pada resistor dengan hasil pengukuran nilai menggunakan ohm meter
3.      Menyelidiki bermacam-macam hubungan rangkaian
DASAR TEORI
          Multimeter adalah suatu peukur yang dapat digunakan untuk mengukur resistansi (sebagai ohm meter),tegangan (sebagai voltmeter),dan arus (sebagai ampere meter),baik gelombang bolak-balik  (AC) atau searah  (DC).
            Tahanan adalah salah satu  parameter dasar dari suatu  rangkaian listrik maupun elektronika.Dalam setiap pemakaian atau perencanaan rangkaian tahanan selalu dikutsertakan untuk maksud tertetu.
            Pengukuran resistansi suatu resisor bisa diukur pada pembacaan skala meter. Perhatikan untuk pengukuran perkalian x1kΩ,x1,x10Ω,dan sebagainya.pengukuran ini disebut pengukuran secara langsung.demikian juga ntuk penguuran tegangan/voltmeter,posisi skalar multimeter diletakkan pada posisi volt dan perhatkan skala volt meter serta baca jarum penunjukan harga tegangan yang didapat.
ALAT DAN BAHAN
1.      Multimeter Metrawatt /sanwa              : 1buah
2.      Resistor modul yang terdiri atas:
·         1kΩ                                          :2buah
·         100Ω                                        :1buah
·         1MΩ                                         :1buah
·         220Ω                                        :1buah
·         470Ω                                        :1buah
·         100Ω                                        :1buah
·         47Ω                                          :1buah
3.Konektor                                          :2buah
4.Jumper                                              :5buah

GAMBAR RAGKAIAN
Gambar 1.1


Gambar 1.2 a                                               
                                                                                                  




Gambar 1.2 b
                           (c)
                         (d)
                       





                                                (e)

                                                (f)







LANGKAH  PERCOBAAN
1.      Mengukur nilai-nilai   resistor dengan menggunakan ohm meter yang mempunyai batas ukur x1Ω,x10,dan x1k.
2.      Mengukur nilai resistansi total.


TABEL PERCOBAAN
Tabel 1.1
Yang tertera pada resistor
Hasil pengukuran
R(Ω)
Warna cincin
Toleransi
Harga
Bux10
Bux100
Bux1k
Cokelat,hitam,orange,emas
Kuning,ungu,merah,emas
Cokelat,hitam,hijau,emas
Cokelat,hitam,kuning,emas
Cokelat,hitam,cokelat,emas
Cokelat hijau merah emas
Kuning ungu cokelat emas

5%
5%
5%
5%
5%
5%
5%

10.102
47.102
10.105
10.104
10.101
15.102
47.101

1000
4700
1000000
100000
100
1500
470
100
470
100000
10000
10
150
47
10
47
10000
1000
1
15
4.7




ANALISA
Resistor warna coklat, hitam, merah, emas. Harga 1 KΩ Toleransi 5%
Toleransi pada nilai 950 – 1050 Ω
·    Pada batas ukur x10 didapatkan nilai 100 Ω , masih berada pada toleransi
·    Pada batas ukur x100 didapatkan nilai 10 Ω , masih berada pada toleransi
·    Pada batas ukur x1k didapatkan nilai  1 Ω , masih berada pada toleransi


KESIMPULAN
          Besarnya nilai resistansi suatu resistor tergantung urutan warna yang tertera pada cincin resistor.
Perbedaan hasil pengukuran suatu resistansi dengan pembacaan pada warna cincin disebabkan oleh keadaan multimeter yang tidak stabil.
Resistor yang dipasang seri akan memiliki daya resistansi yang kuat/tinggi dibandingkan resistor yang dipasang secara paralel.
Dalam melakukan pengukuran dengan menggunakan multimeter (ohm meter) analog pada saat melakukan perubahan batas ukur, perlu melakukan kalibrasi atau menghubung singkat untuk mengatur jarum multimeter (ohm meter) analog pada posisi 0 (nol), agar pengukuran menjadi akurat.










BAB II
MULTIMETER SEBAGAI VOLT METER
 dan AMPERE METER

TUJUAN PERCOBAAN
Setelah melakukan percobaan ini mahasiswa diharapkan dapat:
1.      Dapat menyelidiki pengaruh tahanan dalam volt meter dalam pengukuran tegangan searah.
2.      Dapat menyelidiki tegangan jatuh pada rangkaian pembagi tegangan searah.
3.      Dapat menyelidiki tegangan output antara variable resistor untuk pembagi tegangan.
4.      Dapat menggunakan multimeter sebagai peukur ampere meter pada pengukuran arus.
5.      Dapat menyelidiki pengaruh tahanan dalam ampere meter pada pengukuran arus.

DASAR TEORI
            Tegangan adalah suatu beda potensial antara 2 titik yang mempunyai perbedaan jumlah muatan dalam satuan volt.Multimeter juga dapat digunakan sebagai peukur arus (ampere meter).Cara pemasangannya adalah seri terhadap beban yang akan diukur arusnya.
            Peukur ampere meter juga mempunyai tahanan dalam seperti halnya voltmeter yang dapat mempengaruhi hsil pengukuran arus suatu rangkaian. Arus listrik timbiul karena adanya suatu elektron satu arah dari suatu beban atau zat akibat pengaruh gaya dari luar dalam satuan ampere.Satu ampere adalah jumlah muatan listrik dari 6,24 x  elektron yang mengalir melalui suatu titik tertentu selama 1 detik.
DAFTAR ALAT DAN BAHAN
Ø  Amperemeter             :2buah
Ø  Catu daya DC              :1buah
Ø  Modul resistor            :
100               1k                  1M
470               4k7                1k5
Variable resistor         :5k.1k.10k
GAMBAR RANGKAIAN
                              
                      Gambar 2.1
                       Gambar 2.2
                      Gambar 2.4
 
                              Gambar 2.5
                             Gambar 2.6







DATA  PERCOBAAN                      
Tabel 2.1

RI

R2Ω
Pengukuran
Perhitungan
V

Ket
Sanwa SP15D
Metrawatt
Range
V
Range
V


100
470
10
6,4
200
6,6


1K
1K
10
4,1
200
4,0


100k
1M
10
5
200
7,2


1,5K
4,7k
10
6
200
6


4,7K
100k
10
1
200
0,9


1,5K
1k
10
1,3
200
0,4


470

10
5,4
200
5,4



Tabel 2.2
RI
R2
Pengukuran
Perhitungan
Ket
Range
V1
Range
V2
V1
V2
4,7K
100
200
91
200
0,1



100
470
200
6,8
200
3,2



1K
1K
200
5,0
200
5,O



1M
100K
200
9,1
200
0,8



100K
1,5K
200
10
200
0,1



1,5K
4,7K
200
2,4
200
7,6



4,7K
1K
200
8,3
200
1,7







Tabel 2.4
R1
R2
Pengukuran
Pengukuran
Ket
range
I1(mA)
Range
I2(mA)
I1(mA)
I2(mA)
100
100
200
40,2
200
4O,2



470
100
200
14,1
200
14,1



1K
100
200
7,2
200
7,2




Tabel 2.5
RI
R2
Pengukuran
Perhitungan
Range
It(mA)
Range
I1(mA)
Range
I2(mA)
100
100
200
65,8
200
32,8
200
33,3

IK
470
200
10,5
200
3,3
200
7,1

IK
1M
200
3
200
3,3
200
0

4K7
1K
200
3,9
200
3,1
200
3,1

100
470
200
39,9
200
32,8
200
7,1

Tabel 2.6a
Vs=6volt
R1
R2
R3
Pengukuran
perhitungan
Range
I1
Range
I2
Range
I3

100
100
100
200
40,6
200
20,40
200
20,49

470
1K
4K7
200
4,58
200
3,90
200
0,83

100
470
1K
200
14,69
200
9,98
200
4,68

1K
1K
470
200
4,67
200
1,48
200
3,15

47
1K5
100
200
51,6
200
3,24
200
48,3




Tabel 2.6b
Vs=8volt
R1
R2
R3
Pengukuran
perhitungan
Range
I1
Range
I2
Range
I3

100
100
100
200
54,4
200
27,30
200
27,50

470
1K
4K7
200
6,41
200
5,29
200
1,10

100
470
1K
200
19,76
200
13,42
200
6,35

1K
1K
470
200
6,27
200
2,0
200
4,24

47
1K5
100
200
69,6
200
4,34
200
65,6


PERHITUNGAN
Tabel 2.1
 
V=6,59                                                

Tabel 2.2
V1
 
V1=9,79 V                
 
V2=0,20 V                                         
Tabel 2.4
 =0,04 A
Tabel 2.5
 
        =0.06 A                                                   
 
         =0.06 A             
 
6=0,12


Tabel 2.6a
=50Ω
                 It=


Tabel 2.6b     It=
ANALISA DATA
ü Dari tabel 2.1 tegangan yang masuk pada R1 da R2 adalah sama besar
ü Dari tabel 2.2 besarnya tegangan tergantung dari besarnya tahanan yang dilaluinya
ü Dari tabel 2.4 arus yang mengalir sama besar
ü Dari tabel 2.5 besarnya arus total adalah jumlah masing-masing arus pada tiap tahanan.
ü Dari tabel 2.6 terjadi perubahan besar arus ketika tegangan yang di input ke dalam rangkaian jga di ubah
KESIMPULAN
v  Besarnya tegangan dan arus dalam suatu rangkaian dipengaruh oleh besar dan posisi tahanan
v  Semakin besar tahanan yang diberikan dalam suatu rangkaian maka arus yang mengalir juga akan semakin kecil
v  Demikian jika tegangan yang diinput dalam suatu rangkaian semakin besar maka arusnya juga akan semakin besar dengan catatan besarnya tahanan tidak diubah,seperti tabel 2.6
v  melakukan pengukuran tegangan dan arus dapat dilakukan dengan dua cara yaitu menggunakan alat (multimeter) dan dengan perhitungan sesuai dengan data – data yang diketahui atau tertera pada komponen.







BAB III
PENGUKURAN RESISTANSI DENGAN
METODE VOLT/AMPEREMETER

TUJUAN PERCOBAAN
Setelah melakukan percobaan ini mahasiswa diharapkan dapat:
1.Menghitung nilai resistansi suatu resistor dari pengukuran dengan menggunakan metode VA meter.
2.Menjelaskan pemasangan VA meter yang tepat untuk pengukuran suatu tahanan beban yang tinggi atau rendah
3.Menghitung nilai kesalahan.
DASAR TEORI
            Menghitung nilai resistansi suatu resistor,selain bias dilakukan dengan metode ohm meter,metode jembatan wheatstone,juga dapat dilakukan dengan menggunakan metode volt ampere meter.
Perhatikan:

DAFTAR ALAT DAN BAHAN
            1.Catu daya DC                                                           1buah
            2.Amperemeter                                                          1buah
            3.Voltmeter                                                                 1buah
            4.Resistansi yang telah diketahui nilainya(RL)           1buah 
            5.Resistor 10K,47,220,1M       
GAMBAR RANGKAIAN
                       VA=VS-VRL                                                   IV=IA-IRL
                        Gambar 3.1                                                     Gambar 3.2




LANGKAH PERCOBAAN
1.      Ukurlah tegangan dan arus gambar rangkaian 3.1 untuk harga RL(seolah-olah belum tahu harganya.
 R1=47,R2=220,R3=1K,R4=100K,R5=1M.
Catat hasilnya dalam table 3.1
2.      Ukurlah tegangan dan arus dari gambar rangkaian 3.2 untuk harga RL,R1=47,R2=220,R3=1K,R4=100K,R5=1M
Catat hasilnya dalam table 3.2



DATA PERCOBAAN
Tabel 3.1
Rangkaian 3.1
R1
47
R2
220
R3
1K
R4
100K
R5
1M
V
8,3
8,3
8,3
8,3
8,3
I
176,7 mA
37,8mA
8,3mA
0,083A
0,008A
Perhitungan R






Tabel 3.2
Rangkaian 3.1
R1
47
R2
220
R3
1K
R4
100K
R5
1M
V
7,1 v
7,1 v
7,1 v
7,1 v
7,1 v
I
0,15 A
0,032 A
0,0071 A
0.071mA
0,0071mA
Perhitungan R






PERHITUNGAN
Tabel 3.1
            R1    = V/I                                       R2       = V/I                          
                    =8,3 V/0,17                                 =8,3 V/0,037                  
                    = 48,52 Ω                                      = 224,3                     

                     R3     = V/I                             R3      = V/I                            
                            =8,3 V/0,0083                     =8,3 V/0,000083             
                            = 1000                             = 100000=100KΩ                                                
                   
                     
ERROR
R=48,52=  -I(100)= -17.6=0.65
R=224,3=  -I(100)= -0.03=0.70
R=1000=  -I(100)= -0.0083=0.0
R=100000=  -I(100)= -0.000083=0.0




ANALISA DATA
Ø Tegangan tidak pernah berubah meskipun nilai resistor berubah-ubah…
Ø Besar arus semakin kecil jika resistansi resistor semakin besar
KESIMPULAN
·         Dari data diatas ,besarnya tegangan dalam suatu rangkaian tidak akan dipengaruhi besarnya resistansi suatu resistor
·         Besarnya arus yang mengalir dalam suatu rangkaian akan semakin kecil jika hambatan yang diberikan semakin besar.
·         Kecilnya presentase kesalahan(error) menunjukkan hampir tidak ada kesalah dalam pengukuran dengan perhitungan.
·         pengukuran dipengaruhi oleh instrumen alat ukur itu sendiri dan cara kita memakainya.

BAB IV
RANGKAIAN SERI,PARALEL DAN KOMBINASINYA
TUJUAN PERCOBAAN
1.Menyelidiki besarnya tegangan jatuh pada setiap rangkaian resistor yang dihubungkan seri serta arus yang mengalir pada rangkaian seri
2.Menyelidiki tegangan jatuh pada rangkaian parallel dan arus cabangnya.
3.Menyelidiki besarnya tegangan jatuh pada setiap rangkaian resistor yang dihubungkan seri parallel dan compound/campuran seri parallel serta arusnya.
DASAR TEORI
            Dalam rangkaian elektronika tahanan/resistor biasanya terhubung membentuk suatu susunan tertentu,ada tiga yaitu:
1.      Hubungan seri/deret
2.      Hubungan parallel/jajar
3.      Hubungan seri-paralel(deret-jejer)
DAFTAR ALAT DAN BAHAN
Amperemeter                   :2buah
Catu daya DC                    :1buah
Modul resistor      :
100               1k                  1M
470               4k7                1k5
Variable resistor         :5k.1k.10k





GAMBAR RANGKAIAN
                                                Gambar 4.4
                                    Gambar 4.5
                                                            Gambar 4.6


DATA PERCOBAAN
Tabel 4.1
R1
R2
Vt
It(Ma)
V1
V2
1K
10K
10.21 v
0.9
0.92
8.29
4K7
10K
10.2 v
0.15
8.4
1.80
1K
1K
10.2 v
5.18
5.10
5.10
470
100
10.2 v
18.4
8.40
1.80

Tabel 4.2
RI
R2
Vt
It(mA)
I1(mA)
I2(mA)
V1
V2
1K
10K
10.25
7.3
6.29
1.01
10.25
10.25
100
470
10.23
16.6
7.49
8.57
10.23
10.23
680
1K5
10.27
3.16
2.41
0.75
10.27
10.27
4K7
220
10.26
6.77
2.74
4.03
10.26
10.26

Tabel 4.3
R1
R2
R3
Vt
It
I1
I2
I3
V1
V2
V3
4K7
220
680
10.22
0.19
0.19
0.13
0.02
10.22
36.2

100
470
1K
10.22
24.93
22.49
17.24
5.23
2.44
7.76
7.76
10K
1K
4K7
10.22
0.92
0.90
0.88
9ua
9.31
0.90
0.90

PERHITUNGAN
Tabel 4.1
Ø  Rt=R1+R2=1000+10000=11000

Ø  It= = =0.0009 A=0.9 mA

Ø  V1=It x R1=0.0009 x 1000=0.9 V

Ø  V2=It x R2=0.0009 x 10000=9 V




Tabel 4.2
Rt= = =909.09

It= = =0.01 A

I1= = =0.01 A

I2= = =0.001 A
Vt=V1=V2(PARALEL)

Tabel 4.3
Rt = (R2 // R3 ) + R1= +R1
                                    = +4700
                                    =6060 Ω

It =  =  =0.0016 A                                                           Vparalel = I parallel x Rparalel
I1=It=0.0016
                                                                                                              =0.0016 X 166.2
                                                                                                               =0.26 V
I2= = =0.001 A                                                                           

I3= = =0.0003 A

 
Vt =V1 = 10.23 V
       Vp = V2 = V3 = 0,26 V
ANALISA DATA
Ø  Dari tabel 4.1 besarnya tegangan vt sama dengan jumlah kedua tegangan V1 dan V2.
Ø  Dari tabel 4.2 besarnya arus total yang mengalir adalah jumlah kedua arus yang mengalir pada R1 dan R2,tetapi tegangan total sama dengan V1 dan sama juga dengan V2
Ø  Sedangkan dari tabel 4.3 arus total yang masuk ke dalam rangkaian sama dengan arus pada I1.yang sama dengan jumlah arus I2 dan I3.

KESIMPULAN
Ø  Besarnya tegangan total apabila disusun secara seri akan sama dengan jumlah V1 dan V2.
Ø Besarnya tegangan total yang disusun paralel akan sama dengan V1 dan V2.
Ø  Besarnya arus total yang disusun paralel akan sama dengan hasil jumlah I1 dan I2.
Ø  Pada rangkaian ysng tersusun secara seri – paralel maka arus total yang mengalir sama dengan arus I1 dan yang tersusun paralel jumlah I2 dan I­3 sama dengan arus total It.(rangkaian 4.3)
Ø Dalam pengukuran sering terjadi kesalahan pengukuran yang mengakibatkan hasil yang diperoleh melalui pengukuran dan perhitungan memilki perbedaan yang kecil.

                     







BAB V
HUKUM OHM DAN PEMBAGI TEGANGAN
TUJUAN PERCOBAAN
Setelah melakukan percobaan ini penulis diharapkan dapat :
a.   Membuktikan hukum Ohm
b.   Menghitung analisis rangkaian menggunakan analisis hukum Ohm.
c.   Menerapkan pemakaian huku Ohm.
d.   Menyelidiki pengaruh kedudukan variabel resistor terhadap tegangan jatuhnya.
e.   Menyelidiki pembagi tegangan pada rangkaian tak berbeban dan berbeban.
DASAR TEORI
            Bila ada 2 buah titik yang mempunyai potensial yang berbeda,berarti kedua titik tersebut mempunyai beda potensial.Bila kedua titik tersebut dihubungkan dengan penghantar maka pada penghantar tersebut mengalir arus listrik.Besarnya arus listrik tersebut tergantung dari besarnya beda potensial kedua titik tersebut dan nilai tahanan enghantarnya.
Pada hokum ohm dinyatakan bahwa besarnya arus listrik berbanding lurus dengan beda potensial dan berbanding terbalik dengan resistansi penghantarnya.
DAFTAR ALAT DAN BAHAN
·        Catu daya                    =0-20 volt
·        Resistor                       =220,680,4k7,100,470,1K
·        Multimeter                 =1buah
·        Variable resistor         =5K



GAMBAR RANGKAIAN
a.Hukum ohm
                                    Gambar 5.1
a.Pembagaian tegangan tanpa beban
                        Gambar 5.2
                        Gambar 5.3
                        Tabel 5.4
                        Gambar 5.5
DATA PERCOBAAN
Tabel 5.1
RL
I(mA)
V
220
48,2
10
680
15.32
10
4K7
2.15
10


Tabel 5.2
I
RL
V

1mA
220
0.25
680
0.75
4K7
4.3

5mA
220
1.3
680
3.5
4K7
23

7.5mA
220
1.9
680
5.1
4K7
30

Tabel 5.3
R1
R2
V1
V2
100
470
1.47 V
6.8 V
470
220
5.72 V
2.66 V
1K
1K5
3.32 V
5.05 V

Tabel 5.4
Posisi potensiometer
V1(volt)
V2(volt)
Rab
Rbc
1K
4K
2.99
7.18
2K
3K
3.90
6.31
3K
2K
5.8
4.3
4K
1K
7.83
2.3
5K
0
10
0

Tabel 5.5
R1()
R2()
R3()
Vo
100
100
100
2,84
220
680
680
5.25


Tabel 2.6
Posisi potensio meter
R1()
V1
V2
Maksimum
Tengah-tengah
Minimum
100
100
100
8.43v
4.12v
93.3mv
0.3v
4.31v
8.03 v
Minimum
Tengah-tengah
Maksimum
470
470
470
20mV
4.09v
8.4v
8.04v
4.32v
0.3mV

PERHITUNGAN
Ø  Tabel 5.1
V=R x I=220 x 0.04=10.6 V
Ø  Tabel 5.2
Untuk  I = 1 mA = 0,001 A
 V1=I  x R1=0.001 x 220=0.22 v

Untuk  I = 5 mA = 0,005A
V1=I  x R1=0.005 x 220=1.1 v

Untuk  I = 7.5 mA = 0,005A
V1=I  x R1=0.0075 x 220=1.65  v
Ø Tabel 5.3
Vs = 8v
      It= = =0.014 A
V1=It x R1=0.014 x 100=1.4 v
V2=It x R2=0.014 x 470=6.58  v

Ø Tabel 5.4
It= = =0.0016 A
V1=It x Rac=0.0016 x1000=1.6 v
V2=It x Rbc=0.0016 x4000=6.4 v

ANALISA DATA
Ø Arus semakin kecil ketika hambatan yang diberikan semakin besar
Ø Jika potensio meter dalam keadaan maksimum maka tegangan yang ada di depannya juga akan besar dan sebaliknya.
KESIMPULAN
v  semakin besar nilai/ harga resistansi R yang digunakan dengan tegangan tetap maka besar arus listrik semakin kecil.
v  semakin besar arus listrik dan resistor maka pengukuran akan bernilai nol karena melebihi batas ukur yang dianjurkan.
v  jumlah V1 dan V2 pada pengukuran potensiometer merupakan besar tegangan sumber yang digunakan.









BAB VI
HUKUM KIRCHOFF DAN TEOREMA SUPERPOSISI

TUJUAN PERCOBAAN
Setelah melakukan percobaan ini penulis diharapkan dapat :
a.     Membuktikan kebenaran Hukum Kirchoff.
b.    Menghitung analisis rangkaian dengan menggunakan Hukum Kirchoff.
c.     Membuktikan Teorema Superposisi dan penerapan pemakaiannya.
d.    Meghitung analisis rangkaian menggunakan Teorema Superposisi.

TUJUAN PERCOBAAN
            Banyaknya rangkaian yang mempunyai komponen-komponen tidak semudah rangkaian jembatan wheatstone yang tidak setimbang.untuk menyelesaikannya dipakai hokum kirchoff dan teorema superposisi.
DAFTAR ALAT DAN BAHAN
1.      Catu daya
2.      Resistor 1KΩ, 10K ,dan 470Ω.
3.      Multimeter
4.      Konektor
GAMBAR RANGKAIAN
1.hukum kirchoff
                                    Gambar 6.1


2.Teorema superposisi
                                    Gambar 6.2



DATA PERCOBAAN
Tabel 6.1
V1=10    V2=10
R
V
A(mA)
R1
6.74 v
0.6
R2
6.81 v
0.9
R3
3.5 v
0.7

Tabel 6.2
R
V
A(mA)
R1
5.78 v
5.94
R2
3.4 v
0.35
R3
2.8 v
6.2

Tabel 6.3
R
V
A(mA)
R1
5.9 v
6.16
R2
2.7 v
0.025
R3
2.7 v
5.88

Tabel 6.4
R
V
A(mA)
R1
196 mV
0.019
R2
6.18 v
0.61
R3
196.5mV
0.04

PERHITUNGAN
1)  Tabel 6.1
Kirchoff I :
                     I1 + I2 – I3 = 0
                     I1 = I3 – I2 ......................(*)
Kirchoff II :     
Loop I               ∑V = ∑IR
                          10 = I1R1 + I3R3     
                          10 = 1000I1 + 470I3................(**)
Loop II              ∑V = ∑IR
                          10 = 10000 I2 + 470I3...................(***)
Subtitusikan persamaan (*) ke persamaan (**)
10 = 1000(I1 – I2) + 470I3
10 = 1000 I3 1000I2 + 470I3
10 = – 1000I2 + 1470 I3..........................(****)
Gabungkan persamaan (***) dengan persamaan (****)
10000 I2 + 470I3 = 10
1000I2 + 1470 I3 = 10
∆ = = 14700000 + 470000 =15170000
∆ I2 =  = 147004700= 10000
∆ I3 =  = 100000 + 10000= 110000
Arus yang melewati masing – masing resistor :
I2 =  =  = 0.00065A = 0.6 mA
I3 =   =  = 0.00072 A = 0.72 mA
I1 = I3 - I2 = 0.72 mA – 0.6 mA = 0.12 mA
Tegangan pada masing –masing resistor :
a.   V1 =  I1R1 = 0.000121000= 0.12 V
b.   V2 = I2R2 = 0.000610000 = 6 V
c.   V3 = I3R3 = 0.00072470 = 0.3 V
Teorema Superposisi
Ø  V1 on dan V2 off

Rt1 = R1 + R2 // R3
          = R1 +
     = 1000 +
= 1448.9 Ω
I1 =  =  =  0.0069 A = 6.9 mA
I2’ =    I1’ =    0.0069 A = 0.00030 A = 0.30 mA
I3’ = I1’ –  I2’ = 6.9 mA – 0.30 mA = 6.6 mA

Ø  V2  on dan V1 off.

Rt2 = R2 + R1 // R3
= R2 +  
= 10000 +
=10319.73 Ω

I2” =  =  = 0.00058 A = 0.58 mA
I1” =  =  = 0.001 A = 1 mA
I3” = I2” – I1” = 0.58 – 1 = – 0.42 mA (arah arus berlawanan arah dengan arah arus pemisalannya).


Jadi, arus yang melewati masing –masing resistor adalah :
I1 = I1’ – I2” = 6.9 mA – 1 mA = 5.9 mA
I2 = I2’ – I1” = – 42.7 mA + 0.58 mA = 42.12 mA
I3 = I3’ – I3” = 35.8 mA + 0.42 mA = 36.22 Ma


KESIMPULAN
v  Teorema Superposisi dan Hukum Kirchoff digunakan untuk menghitung rangkaian yang mempunyai komponen banyak yang tidak dapat dihitung dengan jembatan Wheatstone.
v  menghitung arus arus pada rangkaian yang menggunakan hukum Kirchoff, digunakan pemisalan arah arus. Jika hasil yang diperoleh bernilai negatif (-) bukan berarti salah tetapi berarti pemisalan berlawanan arah dengan pemisalnya.
v  perbedaan hasil pengukuran dengan perhitungan dipengaruhi oleh kesalahan pada alat ukur, cara kita menggunakan alat ukur dan tahanan dalam pada alat ukur dan komponen.








BAB VII
PEMAKAIAN OSILOSKOP UNTUK
MENGUKUR TEGANGAN DC

TUJUAN PERCOBAAN
Setelah melakukan percobaan ini penulis diharapkan dapat :
a.   Menggunakan osiloskop untuk mengukur berapa tegangan DC.
b.   Melihat bentuk sinyal / gelombang searah / DC melalui osiloskop.
DASAR TEORI
Osiloskop dapat digunakan untuk mengukur tegangan searah(DC)
DAFTAR ALAT DAN BAHAN
1.      Catu daya
2.      Multimeter
3.      Konektor
4.      BNC to BNC
5.      BNC to BANANA
GAMBAR RANGKAIAN
Power Supply
DATA PERCOBAAN
Tegangan


2 volt
V/dV


1
Gambar penampakan






3 volt


1


5 volt


2


7 volt


2


10 volt


5
ANALISA DATA
Ø Untuk tegangan sebesar V =  2 Volt dan jumlah penampakan vertikal = 2.6 kotak,
maka 
Vpp  =  ∙ 2.6  = 5.2 V/div
Ø Untuk tegangan sebesar V = 3 Volt dan jumlah penampakan vertikal = 1,4 kotak,
maka :
                 Vpp  =  ∙ 1 = 3 V/div
Ø Untuk tegangan sebesar V = 5 Volt dan jumlah penampakan vertikal­ = 1 kotak,
maka :
                 Vpp = 2.6 =6.5 V/div
Ø Untuk tegangan sebesar V = 7 Volt dan jumlah penampakan vertikal = 3,4
maka :
                 Vpp =  3.8= 13.3 V/div
Ø Untuk tegangan sebesar V = 10 Volt dan jumlah penampakan vertikal = 2 kotak,
maka :
                 Vpp =   2= 10 V/div
KESIMPULAN
Dari analisis di atas, kesimpulan penulis adalah sebagai berikut.
a.   Osiloskop adalah peukur yag dapat menampakkan sinyal listrik yang diukur pada layar.
b.   Mengukur tegangan peak to peak dengan osiloskop dapat lakukan secara langsung. Besar tegangan yang digunakan pada power supply dibagi dengan divisi. Setelah itu, dikalikan dengan jumlah kotak secara vertikal.







1 komentar: